Tata Cara Mendidik Anak Dari Usia Dini
Tata Cara Mendidik Anak Dari Usia Dini

Tata Cara Mendidik Anak Dari Usia Dini




Sumber foto : www.jabarpubliser.com


Trenyuh sekaligus gemas melihat berita di televisi beberapa hari yang lalu. Bagaimana seorang siswi SMA di Medan, Sumatera Utara membuat gempar public tanah air dengan ulahnya memaki maki polisi bahkan sampai membawa bawa nama Jendral polisi. Ketika oleh seorang polwan dihentikan karena berkonfoi naik mobil dengan belakang mobil dibuka. 

Apa yang sebenarnya terjadi pada anak tersebut pola asuh yang salah atau cara memilih teman yang tidak benar, saling berkaitan keduanya. Karena pola asuh yang benar dengan pendidikan agama utamanya dapat membentuk karakter anak yang baik pula. Tidak mungkin anak tumbuh menjadi tidak terkendali jika pendidikan dan dasar agama telah ditanamkan sedini mungkin. Meskipun terkadang dalam perkembanganya ketika remaja atau dewasa si anak ikut terbawa arus zaman, akan lebih mudah kembali pada fitrahnya hal itu dikarenakan dasar agamanya yang telah tertanam kuat. Sebagaimana dalam islam Rasululloh telah mengajarkan pada kita tata cara mendidik anak sesuai umurnya.

  • Umur 0-6 tahun, jadikanlah anak sebagai raja. Dalam usia ini disebut golden age atau usia emas dimana otak anak bagaikan spon yang siap menyerap apa yang kita berikan. Pada usia ini kita bisa mengajarkan ketaukhidan, mengaji, sholat dan dasar agama lainya.
  • Usia 7-14 tahun, perlakukan anak sebagai tawanan. Pada usia ini anak mulai mencari jati diri, ajarkan tanggung jawab dan disiplin. Beri tanggung jawab solat 5 waktu dan beri hukuman jika melanggar.Tetapi bukan hukuman yang menyakitkan. Ajari anak untuk tidur sendiri, buat kesepakatan dengan anak sanksi apa yang didapat jika bersalah.
  • Usia 15-21 tahụn, jadikan anak sebagai sahabat. Anak pada usia ini cenderung ingin bebas. Oleh karena itu perlu pendekatan yang baik. Berbagi cerita membuat mereka terbuka dan tidak menganggap kita orang lain sehingga diharapkan setiap punya masalah tidak mencari orang lain sebagai tempat cerita.
      Bagaimana sebenarnya islam telah mengajarkan pada kita cara mendidik anak yang baik. Sekarang bandingkan dengan pola pengajaran yang ala kadarnya apalagi tanpa bekal agama. Karena itu, sebenarnya proses pembentukan karakter anak butuh program dan perencanaan. Jangan hanya mengalir mengikuti arus perkembangan zaman, terlebih zamanya permisif dan jauh dari tuntunan islam.

      Ibnul qoyyim rahimallah berkata : "Siapa yang mengabaikan edukasi yang bermanfaat untuk anaknya dan membiarkan begitu saja, maka ia telah melakukan tindakan terburuk terhadap anaknya. Kerusakan anak kebanyakan bersumber dari orang tua yang membiarkan mereka dan tidak mengajarkan kewajiban sunah din kepada mereka. Tidak memperhatikan masalah agama ketika masih kecil sehingga ketika sudah besar sulit untuk meraih manfaat dari ajaran agama dan tidak dapat memberi manfaat bagi orang tua. (Tuhfatul maudud 1:229).

      Apa lagi di dukung kemapanan orang tua yang secara otomatis memanjakan anak. Maka sukseslah anak menjadi trobel maker atau pembuat masalah. Jika sudah begini akhirnya orang tua saling menyalahkan. Ayah menyalahkan ibu tidak bisa mendidik anak dan ibu menyalahkan ayah karena tak peduli urusan anak. Rumah tak lagi jadi tempat yang damai dan dirindukan, tapi laksana neraka yang siap menjilat siapapun di dekatnya. Naudzubillah.
      Advertisement

      Baca juga:

      Your Reactions:

      Admin
      Bermimpilah setinggi langit dan jika kamu jatuh, níscaya kamu akan terjatuh diantara bintang-bintang.
      Buka Komentar